Harapan yang ku genggam selama ini, tak
pernah lepas dari janji suci yang pernah kita buat. Ikatan yang kuharap itu
adalah ikatan suci, menjadikanku semakin yakin bahwa kamulah yang pantas untuk
ku perjuangkan. Sebuah istana yang ku janjikan untukmu, sudah hampir selesai
kubangunkan. Sang mentari yang berbisik padaku, tak menginginkan sebuah keadaan
untuk mengecewakanmu. Kata maaf yang sering ku ucapkan, akan menjadi penghias
dalam cerita ini untuk tetap abadi. Aku hanya tidak ingin, dalam kisah ini akan
tumbuh rasa benci diantara kita. Aku berharap, kamu dapat memahaminya dalam
setiap kejadian yang tidak luput dari kesalahan.
Banyak
kejadian yang telah kita lewati untuk menumbuhkan kebahagiaan. Canda dan tawa
yang kita bangun bersama, membangunkan setiap rasa yang tertidur lelap dalam
kehampaan. Hati yang pernah ku sentuh dengan kesetiaan, tak mampu lagi kau
sembunyikan dengan amarahmu sekalipun. Tatapan mata yang sulit ku lupakan,
menjadikanku terbuai dan jatuh dalam bayanganmu. Jika aku mengibaratkanmu
dengan keindahan, pasti didunia ini tak ada yang mampu menandingi keindahanmu.
Dirimu tidaklah seburuk yang aku sangka, dan tidaklah sempurna yang aku kira.
Tapi, aku punya keyakinan dalam hatiku yang paling dalam. Bahwa dirimu, lebih
dari apa yang dapat aku nilai selama ini.
Aku
baru sadar, bahwa di dunia ini hanya ada dua kemungkinan yang dapat aku
lakukan. Diam untuk merelakan, atau berjuang untuk mempertahankan. Dua
kemungkinan itu, mempunyai arti tersendiri untuk membuat semua ini menjadi
berarti. Bagai mimpi kurasakan semua ini telah begitu cepat terjadi. Aku
tertipu oleh mataforgana yang kuciptakan dalam hidupku sendiri. Senyum kecil
saat aku mengingatmu, menyadarkanku bahwa semua itu adalah kenangan yang hidup
tenang dalam fikiranku. Ternyata, aku terlalu lama diam untuk merelakan semua
kejadian itu terhapus oleh sang waktu. Aku terlalu lemah berjuang untuk
mempertahankanmu, sampai-sampai aku harus melihatmu yang mulai pergi
meninggalkanku. Aku berharap, ada satu hal yang dapat aku lakukan untuk membuat
semua ini menjadi berarti. Namun sayang, semua ini sudah terlanjur terjadi dan
hancur.
Alasan
apapun untuk semua ini, tak akan ada artinya lagi untuk mengembalikannya
seperti semula. Debu hitam yang mulai menumpuk dalam kenangan, akan menjadi
saksi bisu untuk kisah ini. Tak ada bukti yang bisa aku temukan, untuk mencari
setiap alasanmu. Sampai detik ini, aku masih terbayang-bayang oleh kebingungan
yang menyelimuti otakku. Ku cari tahu sendiri apa alasanmu untuk pergi dariku.
Tapi apa, semua itu hanya sia-sia dan membuatmu semakin jauh untuk
meninggalkanku. Aku terlalu sibuk dengan semua kejadian ini, sampai aku lupa
bahwa kebahagianku telah hilang bersama cintamu. Otak sehatku tak lagi
berfungsi secara normal, virus yang ku terima telah meracuni setiap keinginan
yang ingin melupakanmu. Akankah aku terus seperti ini, hidup dalam kisah kelam
yang membuatku tenggelam dengan bayang keindahan.
Setiap
ku ingat tentangmu, ingin rasanya ku buang jauh-jauh rasa ini. semakin besar
rasa ini untuk melupakanmu, entah mengapa hati ini semakin kuat untuk
menggenggamnya. Jujur, tidak ada kebencian yang hadir dalam hatiku untuk
membencimu. Mungkin malah sebaliknya, aku semakin tak rela melihatmu berlama-lama
dalam sandiwara ini. Semua ini, aku anggap sebagai kejadian yang wajar. Dirimu
ataukah diriku yang tak lagi sama, seperti awal kisah kita dulu. Mungkin semua
ini adalah kesalahanku.
Ada
satu kata yang sampai saat ini masih jelas ku ingat darimu, “maaf, aku tak lagi
bernafas untukmu”. Saat ku dengar kata itu, aku hanya bisa terdiam. Seperti tak
percaya apa yang barusan terjadi. Belum sempat ku jawab, “ terimakasih atas
kebahagiaan yang telah kau bagi denganku. Tapi sekali lagi aku minta maaf ya,
aku ingin merasakan kebahagiaan yang selama ini aku cari”. Tubuhku terasa
sangat lemas, mendengar semua kata-kata itu. Aku sangat tidak yakin dengan apa
yang telah terjadi. Dengan keadaan yang sedikit kecewa, ku genggam tanganya
sangat erat, “sudah, tidak usah minta maaf. Mungkin semua ini memang salahku,
sampai-sampai membuatmu pergi. Aku hanya berpesan, jaga hatinya ya”. tangan
yang tadinya ku genggam, di lepaskannya secara perlahan, “selamat tinggal, aku
janji akan menjaganya sama seperti kamu menjaga hatiku”. Aku hanya tersenyum
kecil dan berkata, “belum sempat terabadikan kisah ini berakhir, dan belum
sempat terabadikan kamu harus pergi jauh”.
Semua
yang pernah terjadi, tak akan pernah kembali dalam kehidupanku. Lembaran kisah
lalu, akan menjadi kenangan yang ku hiasi dengan rasa yang pernah ada. Kesibukanku
untuk membahagiakanmu, tak lagi dapat aku lakukan. Jujur, sampai saat ini aku
belum bisa menghapus semua tentangmu. Aku masih memikirkan apa yang seharusnya
sudah ku buang jauh-jauh. Tapi semua ini aku lakukan untuk kebahagiaanmu, meski
dalam kenyataannya tak mampu kamu rasakan lagi. Dirimu akan hidup selamanya
dalam hatiku. Aku tak tahu kapan rasa itu akan pergi jauh. Sekarang, aku hanya
ingin melihatmu bahagia dengan kebahagiaan yang sudah kau pilih.